Ayo Kembali Mengajar Dengan Papan Tulis
https://lenterarevolusi.blogspot.com/2026/06/ayo-kembali-mengajar-dengan-papan-tulis.html
Beberapa tahun terakhir dunia pendidikan Indonesia mengalami euphoria penggunaan gadget. Atas nama pembelajaran digital, komputer dan perangkat digital lainnya termasuk smartphone serta tak ketinggalan akses internet, meluas digunakan dalam proses pembelajaran sebagai tanda modernisasi zaman.
Guru saling beradu kreativitas membuat slide ppt. Di kelas, penyampaian materi slide powerpoint dikombinasi dengan akses website animasi, plus menggunakan perangkat digital interaktif layar lebar. Dunia pendidikan seolah bergerak progresif dalam ranah teknologi mutakhir.
Guru saling beradu kreativitas membuat slide ppt. Di kelas, penyampaian materi slide powerpoint dikombinasi dengan akses website animasi, plus menggunakan perangkat digital interaktif layar lebar. Dunia pendidikan seolah bergerak progresif dalam ranah teknologi mutakhir.
Seiring pergerakan cepat teknologi yang memasuki era Revolusi Industri 3.0, 4.0 dan kini 5.0, dunia pendidikan tidak mau tertinggal mengemas aktivitas belajarnya dengan pelbagai atribut teknologi informasi. Maka kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) sebagai icon sentral Revolusi Industri 5.0 dengan cepat memasuki kegiatan pembelajaran di sekolah. Guru merancang modul belajar, materi ajar hingga tahapan belajar dan soal ujian dengan AI, murid membuat materi presentasi, makalah sampai jawaban soal dengan AI. Banyak problematika belajar menjadi mudah terpecahkan dengan mesin-mesin bot AI.
Semua cerita ini bermaksud mengemas pembelajaran yang menyenangkan. Dan menarik. Dengan membuat konten-konten belajar audiovisual, juga animasi, quiz-quiz online ditambah tayangan materi melalui perangkat digital interaktif layar lebar, diharapkan tercipta kegiatan belajar yang menyenangkan serta menarik bagi murid. Sehingga guru dan belajar bukan lagi icon yang membosankan.
Maka kelas-kelas menjadi semarak. Situasi belajar menjadi menyenangkan. Kegiatan belajar yang dikemas dalam quiz-quiz secara online, menciptakan atmosfer kelas yang gegap gempita. Durasi belajar 2 atau 3 jam pelajaran tak terasa berlalu cepat.
Namun muncul satu pertanyaan mendasar, apakah suasana belajar yang semarak memiliki hubungan yang linier dengan kualitas pemahaman konsep yang terbentuk di benak para murid?
Sayangnya, hingga kini belum ada satupun riset ilmiah yang membuktikan hubungan linier antara kemeriahan belajar yang dilengkapi bermacam atribut teknologi informasi itu, dengan tingkat keberhasilan membangun pemahaman konsep ilmu di benak para murid.

