Mengenal Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran

Sosok Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei sungguh istimewa. Beliau bukan hanya seorang ulama yang memiliki otoritas keilmuan Islam yang tinggi, namun juga Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.


Sayyid Mojtaba Khamenei lahir tanggal 8 September 1969 di kota Mashad, Iran. Lahir dan tumbuh besar di dalam keluarga yang sangat taat beragama. Sayyid Mojtaba merupakan putra kedua Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei, dan ibunya adalah Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. 

Sejak muda, Sayyid Mojtaba dikenal dekat dengan kalangan militer dan keamanan nasional Iran. Khususnya para komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Hubungan dekat itu, menurut sejumlah pengamat, menunjukkan pengaruh kuat Sayyid Mojtaba dalam struktur kekuasaan negara.

Penunjukkan Sayyid Mojtaba Khamenei oleh Majlis Khubregan (Dewan Ulama Tertinggi Iran yang beranggotakan para ulama pakar Islam) terjadi di tengah gejolak geopolitik perang antara Iran dan Amerika Serikat - Israel. Beliau ditunjuk menggantikan ayahnya, Ayatullah Al-uzhma Sayyid Ali Khamenei yang syahid gugur dibunuh serangan udara AS - Israel pada akhir Februari 2026.

Pendidikan
Pendidikan keagamaan mengakar kuat sejak muda. Lulus dari pendidikan menengah, Sayyid Mojtaba Khamenei melanjutkan ke studi keagamaan di kota Qom, Iran. Qom sendiri termasyhur sebagai kota pusat studi Islam di Iran. Sayyid Mojtaba belajar fikih dan ushul fikih kepada sejumlah ulama besar terkemuka, antara lain Ayatullah Mohammad Taqi Misbah Yazdi, Ayatullah Hossein Vahid Khorasani dan Ayatullah Mahmoud Hashemi Shahroudi. Pelajaran fikih juga diikuti langsung dari ayahnya, Ayatullah Al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei. 


Pada tahun 1999, Sayyid Mojtaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri Gholam-Ali Haddad Adel, seorang tokoh politik konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen. Pada saat yang sama, perjalanan akademik berlanjut di kota Qom memperdalam studi agama.

Dalam institusi pendidikan Hauzah Ilmiyah, Sayyid Mojtaba Khamenei dikenal sebagai pengajar Bahtsul Kharij, yaitu kuliah/pelajaran tingkat tertinggi dalam studi keagamaan. Kegiatan mengajar itu berlangsung lebih dari 17 tahun secara berkelanjutan.

Catatan ilmiah yang disusun dalam bahasa Arab serta diskusi akademik dalam bentuk kritik dan pertanyaan terhadap berbagai teori fikih mendapat perhatian sejumlah ulama senior. Model tersebut menghasilkan beberapa gagasan baru disiplin ilmu fikih, ushul fikih dan ilmu rijal.


Metode pengajaran Sayyid Mojtaba menekankan pada penguasaan terhadap pandangan ulama klasik sekaligus kritik metodologis terhadap dasar argumentasi ilmiah. Pelajaran tingkat lanjut yang Sayyid Mojtaba pimpin berkembang pesat di Qom, lebih dari 400 pelajar Hauzah Ilmiyah mengikuti pelajaran Bahtsul Kharij beliau sebelum pandemi covid-19. Bahkan di awal tahun ajaran baru di tahun 2023, tercatat lebih dari 1300 pelajar terdaftar mengikuti pelajaran tersebut. 

Situasi ini dengan jelas menunjukkan otoritas keilmuan Sayyid Mojtaba Khamenei yang sangat tinggi. Artinya dari faktor keilmuan Islam, beliau merupakan figur ulama intelektual dengan derajat keilmuan yang tinggi dan otoritatif.

Selain mengajar, Sayyid Mojtaba juga banyak beraktivitas di bidang ilmiah dan sosial. Aktivitas itu termasuk di antaranya mendukung berbagai lembaga fikih, pusat kajian keagamaan, dan juga sekolah-sekolah pusat studi pengembangan fikih dan pendidikan ulama generasi baru. 

Program pendidikan di lembaga-lembaga itu meliputi dimensi sosial, termasuk pelayanan bagi masyarakat kurang mampu. Sayyid Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya tiga kriteria utama dalam pendidikan Hauzah Ilmiyah; keilmuan, komitmen revolusioner, kesehatan spiritual.

Kepemimpinan Revolusioner
Kapabilitas kepemimpinan Sayyid Mojtaba Khamenei telah terbentuk dan ditempa sejak muda. Pada pertengahan dekade 1980-an dalam masa perang Iran - Irak, Sayyid Mojtaba yang saat itu masih remaja bergabung dengan pasukan Republik Islam Iran di garda depan pertempuran. Mojtaba muda bertugas di Batalion Habib bin Mazahir , sebuah satuan dari Divisi 27 Muhammad Rasulullah milik Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Satuan itu termasyhur karena banyak anggotanya yang di kemudian hari menjadi figur penting dalam struktur militer Iran. Salah satunya adalah Jenderal Qassem Soleimani. Dan sejumlah komandan lain yang menempati posisi strategis dalam lembaga keamanan negara.  

Dari keterlibatan aktif dalam satuan tempur itulah Sayyid Mojtaba memiliki jaringan dan pengaruh kuat pada militer Republik Islam Iran. Menurut sejumlah analis, Sayyid Mojtaba mempunyai peran kuat sebagai penghubung kantor kepemimpinan negara (Beyt-e Rahbari) dengan struktur komando IRGC (Garda Revolusi Islam Iran) dan institusi keamanan negara. 

Meskipun jarang tampil dalam diplomasi resmi, namun sebagian pengamat menilai beliau memiliki peran strategis dalam koordinasi kebijakan regional Iran, termasuk kawasan Palestina, Irak, Lebanon dan Yaman. Sayyid Mojtaba juga sering dikaitkan dengan jaringan komunikasi dengan para pemimpin poros perlawanan di Asia Barat, termasuk Pemimpin Hizbullah Lebanon yang kharismatik, Syahid Sayyid Hasan Nasrullah.

Pada tahun 2019 Departemen Keuangan Amerika menjatuhkan sanksi terhadap Sayyid Mojtaba Khamenei. Di mata AS, "kesalahan" Sayyid Mojtaba adalah mewakili Pemimpin Tertinggi Iran (yaitu ayah beliau, Syahid Imam Ali Khamenei) dalam kapasitas resmi, meskipun faktanya tidak pernah secara resmi dipilih atau diangkat dalam posisi pemerintahan. Selain itu sanksi itu dijatuhkan lantaran Sayyid Mojtaba dicap "bersalah" oleh AS karena bekerja di kantor ayahnya dan bekerjasama dengan komandan IRGC dan Basij (pasukan paramiliter Iran). 

Di tengah gejolak geopolitik dan provokasi militer AS - Israel, penunjukan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sangatlah tepat. Figur Sayyid Mojtaba yang istimewa, yang merupakan perpaduan antara ulama, pemikir, intelektual, tokoh pergerakan dan pemimpin militer, dipandang memiliki kapasitas mumpuni membawa Iran menjadi kekuatan baru Asia Barat dan dunia, yang mampu mendekonstruksi imperialisme kubu nekolim AS dan Zionis Israel. Serta paling penting adalah membebaskan Palestina dan kawasan Timur Tengah dari cengkeraman Zionis Israel. 

Related

newsticker 5690444753781547065

Post a Comment

emo-but-icon

About Me

My photo
Father of 2 wonderful blessed kids. Teacher. Blogger. Guru Informatika SMPN 8 Bintan. Blogger yang percaya mengajar itu keren. Pendukung Timnas Indonesia, Arema Malang dan Real Madrid. Berharap Indonesia menjadi superpower dunia dan membuat jet tempur serta roket ruang angkasa sendiri. Pembaca buku yang suka ngopi serta puisi. Email: sutan.malaka1110@gmail.com
item