Nama Teknik Diganti Rekayasa? No Way!

Masyarakat teknik Indonesia heboh beberapa waktu belakangan. Kehebohan dipicu keluarnya keputusan Dirjen Dikti nomor 96/B/KPT/2025, lantaran dalam keputusan itu nama "teknik" diubah menjadi "rekayasa". Pengubahan menjadi rekayasa ini dipandang lebih selaras dengan istilah engineering di dunia global. Karena sebagaimana diketahui, teknik adalah nama yang selama ini digunakan perguruan tinggi Indonesia untuk rumpun ilmu bidang engineering.


Misalnya electrical engineering di MIT (Massachusetts Institute of Technology) atau Stanford University, di Indonesia menjadi teknik elektro. Computer engineering menjadi teknik komputer, mechanical engineering menjadi teknik mesin, civil engineering menjadi teknik sipil, dan sebagainya. Selama berpuluh-puluh tahun, di Indonesia nama teknik digunakan sebagai padanan kata engineering. 

Dengan keluarnya surat keputusan Dirjen Dikti ini, nama fakultas dan prodi-prodi teknik akan diubah menjadi "rekayasa". Fakultas teknik menjadi fakultas rekayasa. Teknik elektro menjadi rekayasa elektro, teknik mesin menjadi rekayasa mesin, teknik informatika menjadi rekayasa informatika, teknik sipil menjadi rekayasa sipil, dan seterusnya.

Maka keriuhan melanda komunitas teknik. Terutama mahasiswa dan alumni fakultas teknik. Ada yang memaklumi, tapi lebih banyak yang menolak. Penolakan komunitas teknik tentunya sangat beralasan, baik dari faktor urgensi perubahan, ikatan sosial hingga faktor historis.

Hal pertama yang penting dipahami, tidak ada urgensinya mengganti nama "teknik" yang legendaris ini dengan "rekayasa". Andaipun makna "teknik" dianggap tidak selaras dengan "engineering" yang digunakan kampus global, maka inipun bukan masalah. Perbedaan terminologi ini tidak menimbulkan permasalahan institusional dan legitimasi akademik bagi lulusan teknik kampus-kampus di Indonesia, di mata kampus-kampus internasional. Lulusan teknik Indonesia diakui dan bebas saja melanjutkan studinya di berbagai universitas ternama dunia. Dan bebas juga bekerja di perusahaan-perusahaan internasional.  

Kedua, mengganti nama "teknik" bukan tema sederhana sebatas ganti papan nama. Bagi mahasiswa teknik, nama "teknik" lebih dari sekadar nama program studinya. Nama itu mewakili passion, genre, life style hingga collegiate pride (kebanggaan almamater) yang telah berlangsung selama puluhan tahun, diwariskan dari generasi ke generasi. 

Lantaran itulah mahasiswa teknik memiliki jiwa corps yang tinggi. Sebagai contoh, komunitas mahasiswa teknik mesin Indonesia yang memiliki motto ikonik, "Solidarity M Forever", yang merupakan simbol dan salam mahasiswa teknik mesin Indonesia. Slogan itu dengan baik menggambarkan brotherhood, loyalitas dan sense persatuan yang kuat di kalangan mahasiswa teknik mesin.

Brotherhood dan solidaritas teknik yang kuat ini terus terbawa sampai mereka lulus. Sangat mudah ditemukan berbagai ikatan dan forum alumni teknik, dengan bermacam kiprahnya masing-masing. Membentuk jaringan alumni teknik berbagai angkatan.  

Dengan kenyataan sejarah yang besar seperti ini, komunitas teknik telah memiliki nilai-nilai sosial yang tidak begitu saja dapat dicerabut. Pengaruh kebesaran ini bahkan mempengaruhi generasi pelajar yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Sudah umum terjadi, seorang pelajar begitu lulus dari bangku SMA, memilih masuk ke jurusan teknik karena passion, genre dan life style teknik yang telah menjadi fenomena sosial tersebut. 

Di mata banyak pelajar SMA, teknik adalah keren. Belajar kalkulus, matematika teknik, teori-teori fisika tingkat lanjut, rangkaian listrik, termodinamika, mekanika, metalurgi, coding berjam-jam di depan komputer, begadang mengerjakan laprak, menyelesaikan tugas projek di workshop sampai malam, dan semacamnya, adalah perjalanan intelektual khas teknik yang menantang dan sarat kebanggaan 😎

Tidak dapat dipungkiri, ini adalah fenomena sosial dari kata "teknik". Sebuah life style ala teknik. Gaya hidup yang dibentuk nuansa perkuliahan teknik, dan efeknya nama teknik mengakar kuat dalam horizon kebanggaan jutaan mahasiswa dan alumni fakultas teknik. Apakah dengan semua kondisi ini, lalu nama teknik di perguruan tinggi akan begitu mudahnya dapat diganti menjadi "rekayasa"? Tentu saja tidak.

Pengubahan nama teknik menjadi rekayasa, secara langsung akan menghasilkan generasi "teknik" yang ahistoris, yaitu "mahasiswa rekayasa". Ada sejarah yang hilang. Akan lahir generasi "rekayasa" yang terputus dari kebesaran para pendahulu dan masa lalunya. Walhasil kebesaran teknik akan memudar dan akhirnya hilang ditelan waktu.

Pastinya alumni teknik menyadari potensi kekacauan ini. Kampus-kampus juga tidak akan gegabah mengganti nama teknik yang telah melegenda. Karena itulah suara penolakan terdengar di mana-mana. Nama teknik yang termasyhur harus tetap tertulis kokoh, bendera-bendera himpunan mahasiswa teknik harus tetap berkibar. Begitulah keyakinan kuat untuk menjaga marwah teknik.


Bintan Utara, 28 Mei 2026.  

Related

newsticker 3869395930418554667

Post a Comment

emo-but-icon

About Me

My photo
Father of 2 wonderful blessed kids. Teacher. Blogger. Guru Informatika SMPN 8 Bintan. Blogger yang percaya mengajar itu keren. Pendukung Timnas Indonesia, Arema Malang dan Real Madrid. Berharap Indonesia menjadi superpower dunia dan membuat jet tempur serta roket ruang angkasa sendiri. Pembaca buku yang suka ngopi serta puisi. Email: sutan.malaka1110@gmail.com
item