Indonesia Selalu Bersama Palestina

                        

Perang 11 hari antara Pejuang Palestina dan Israel berakhir dengan gencatan senjata tanggal 21 Mei 2021 lalu. Tercatat sejak 10 Mei 2021 para pejuang Palestina, yang didominasi oleh Brigade Al-Qassam (sayap militer Hamas) dan Brigade Al-Quds, bertempur sengit melawan militer zionis Israel. 


Israel secara membabi-buta memborbardir Gaza melalui serangan udara jet-jet tempur, dengan menjadikan target bangunan-bangunan sipil seperti apartemen, kantor bank bahkan gedung media jurnalistik. Sementara pejuang Palestina membalasnya dengan menembakkan ribuan roket ke wilayah Israel, dengan target bandara militer, industri kimia pabrik senjata, kilang minyak hingga pembangkit tenaga listrik milik zionis Israel.


Selama 11 hari pertempuran, lebih dari 2000 serangan udara jet-jet tempur Israel dilancarkan terhadap wilayah Gaza, Palestina. Ribuan serangan udara ini membunuh lebih dari 200 warga Gaza, termasuk 65 anak-anak. Banyaknya korban sipil di kalangan rakyat Palestina ini, terutama para ibu dan anak-anak, dikarenakan jet-jet tempur Israel banyak memborbardir pemukiman-pemukiman warga. 


Para pejuang Palestina membalas dengan meluncurkan lebih dari 4000 roket ke arah kota-kota besar Israel seperti ibukota Tel Aviv, Ashkelon, Ashdod, Haifa, Beersheba dan lain-lain. Sekitar 1800 roket para pejuang Palestina berhasil mengenai sasaran, menyebabkan sejumlah kerusakan hebat dan kerugian besar pada perekonomian Israel. Di antara kerugian di pihak Israel adalah rusaknya jaringan listrik, terbakarnya jaringan pipa bahan bakar di kota Ashkelon, hingga terhentinya trafik penerbangan di bandara terbesar Israel, Ben Gurion.


Dunia bergetar oleh heroisme pejuang Palestina. Kemampuan Palestina membalas dengan ribuan roket ini membuka era baru perlawanan bangsa Palestina terhadap penjajahan dan pendudukan (okupasi) Israel terhadap wilayah Palestina, yang sudah berjalan selama 73 tahun. Kemampuan para pejuang Palestina ini, baik dari faksi Brigade Al Qassam (Hamas) maupun Saraya Al Quds, tidak hanya mengguncang Israel namun juga mengejutkan dunia.


Sejak kaum zionis Israel menjajah Palestina di tahun 1948, bangsa Palestina yang semula melawan dengan lemparan batu dan katapel, kini telah mampu meluncurkan ribuan roket, drone (pesawat tanpa awak) kamikaze, bahkan rudal (peluru kendali) jarak jauh yang menghantam bangunan-bangunan penting Israel. Militer Israel yang disebut-sebut sebagai salah satu militer terkuat di dunia itupun sampai terlebih dahulu mengumumkan gencatan senjata, agar tidak semakin babak-belur dihujani roket-roket pejuang Palestina.


Sikap Indonesia 

Sejak awal berdirinya republik tercinta ini, Indonesia selalu mendukung Palestina. Dukungan bangsa Indonesia bukan hanya didasari pertimbangan politik atau sejarah semata, namun lebih filosofis dari itu, ini merupakan amanah konstitusi. Pembukaan UUD 1945 di paragraf pertama menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak semua bangsa, dan karenanya penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.


Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

 

Dengan landasan amanat Pembukaan UUD 1945 ini, sejak awal Pemerintah Indonesia selalu mendukung kemerdekaan Palestina. Dengan kata lain, Indonesia menentang keras penjajahan Israel atas Palestina. Proklamator RI sekaligus Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno pernah mengatakan, "selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel".


Sikap tegas Presiden Ir. Soekarno yang mendukung Palestina, ditunjukkan saat Indonesia menggagas Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1953. Indonesia dan Pakistan menolak keikutsertaan Israel dalam konferensi KAA itu karena Israel merupakan penjajah. 

Kemudian di dalam forum KAA tahun 1955 di Bandung, Presiden Soekarno dengan keras mengecam segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan Israel terhadap Palestina. Melalui KAA, Presiden Soekarno membentuk poros anti-imperialisme agar negara-negara Asia - Afrika dapat terbebas dari belenggu penjajahan.


Dukungan terhadap Palestina kembali ditunjukkan Indonesia ketika Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962. Saat itu Pemerintah Indonesia tidak memberikan visa kepada kontingen Israel, karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Dengan kata lain Indonesia menolak mengakui Israel.


Dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak pernah terputus hingga kini. Dari masa ke masa, Indonesia tetap setia bersama Palestina. Menlu RI Ibu Retno Marsudi dalam pidatonya di Sidang Umum PBB tanggal 20 Mei 2021 dengan tegas menyampaikan dukungan Indonesia pada Palestina. Bahwa Indonesia hadir di Sidang Umum PBB untuk memperjuangkan keadilan bagi masyarakat Palestina.


Menlu RI bahkan dalam pidatonya juga berani bersikap tegas. Ibu Retno Marsudi  menyebutkan bahwa dalam perang simetris itu, Israel adalah negara penjajah dan Palestina berada dalam posis ditindas atau terjajah. "Penindasan atau penjajahan (Israel) adalah penyebab utama (kekerasan)", demikian tutur Bu Retno.


Sikap tegas Pemerintah RI ini membuktikan konsistensi Indonesia untuk terus mendukung Palestina, hingga kemerdekaan Palestina terwujud. Kesetiaan untuk selalu membela nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, yang selain karena amanat konstitusi negara, juga merupakan balas budi kita semua mengingat bangsa Palestina merupakan pihak yang sejak tahun 1944 sudah menyatakan dukungannya bagi kemerdekaan RI. 

Related

Diskursus 621426333042268995

Post a Comment

emo-but-icon

About Me

My photo
Father of 2 wonderful blessed kids. Teacher. Blogger. Guru Informatika SMPN 8 Bintan. Blogger yang percaya mengajar itu keren. Pendukung Timnas Indonesia, Arema Malang dan Real Madrid. Berharap Indonesia menjadi superpower dunia dan membuat jet tempur serta roket ruang angkasa sendiri. Pembaca buku yang suka ngopi serta puisi. Email: sutan.malaka1110@gmail.com

Arsip Semua Tulisan

item