Sekapur Sirih Sejarah Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Bermula dari kata philosophia, yang merupakan gabungan dari kata philos dan SophiaPhilos berarti cinta, dan Shopia bermakna kebijaksanaan. Sehingga filsafat dapat diartikan “cinta kebijaksaan”. Plato menyebut Socrates sebagai philoshopos (filosof) yaitu seorang pecinta kebijaksanaan. Karenanya di kemudian hari kata filsafat identik dengan kebijaksanaan.

Sebelum Socrates, ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophis (kaum sofis) yang berarti kaum cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran kebenaran realitas/kebenaran hakiki dan menggunakan premis serta argumentasi yang keliru dalam kesimpulan-kesimpulan mereka. Secara perlahan kata “sophis” (sophist, sophistes) kehilangan makna aslinya, dan kemudian bermakna seseorang yang menggunakan premis-premis keliru. Dari sinilah awalnya kita mengenal sophistry, yaitu cara berpikir yang menyesatkan.

Ilmu seperti udara. Ia begitu banyak di sekeliling kita. Kamu bisa mendapatkannya dimanapun dan kapanpun. (Socrates).


Socrates –mungkin karena kerendahan hatinya— melarang orang menyebut dirinya sophis (cendekiawan). Socrates menyebut dirinya filosof, pecinta kebijaksanaan, menggantikan sophists. Karena sophistic dianggap sebagai penalaran yang salah, maka filosof bergeser maknanya dari pecinta kebijaksanaan menjadi pecinta kebenaran. Filsafat pada akhirnya dinisbahkan sebagai cara pemikiran yang benar, dan dihubungkan dengan kebijaksanaan dan kebenaran.

 

Apakah Filsafat itu?

Filsafat merupakan cara atau metode berpikir yang didasarkan pada kritisisme (sifat kritis) dan penggunaan logika yang benar. Sebagai sebuah fenomena sosial, filsafat sebenarnya telah dimulai oleh seorang pemikir sebelum Socrates, yaitu Thales (sekitar tahun 1000 sebelum masehi). Thales memulai dialektika perkembangan pikiran manusia dengan sebuah pertanyaan : “apakah kebenaran itu? dan bagaimana cara berpikir yang benar bagi manusia untuk mencapai kebenaran atau mendapatkan pengetahuan yang benar?”

Filsafat klasik memuncak pada masa Plato dan Aristoteles. Aristoteles adalah murid Plato, tetapi ide-idenya banyak yang tidak selaras –bahkan bertentangan— dengan gurunya itu. Pertentangan pemikiran keduanya bermula dari perbedaan keduanya dalam memandang realitas, dan dari mana kebenaran hakiki tentang realitas tersebut kita dapatkan dan ketahui. Dengan kata lain, perbedaan keduanya keduanya berhubungan dengan keadaan-keadaan wujud, bagaimana ia menjadi suatu wujud dan metode berpikir seperti apa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar tentang hakikat wujud itu.

Pengetahuan kita tentang segala sesuatu secara umum terdiri atas dua hal : pertama, pengetahuan aksiologi atau aksiden sesuatu tersebut. Pengetahuan “tingkat rendah” ini berlaku menurut hukum dan fakta ilmiah serta sejumlah ketentuan logis yang disepakati secara universal. Pengetahuan tingkat ini Nampak sebagaimana pengetahuan kita mengenai ketentuan bilangan aritmatika, kuantitas, sifat tanaman, bangun-bangun geometric, ilmu kedokteran dan sejenisnya. Bentuk ini meliputi seluruh sains : fisiologi, fisika, kimia, geologi, ilmu atom, dan lain-lain.

Buku dan pengetahuan (sumber: shutterstock)


Kedua, pengetahuan yang tidak terbatasi oleh fakta dan hukum ilmiah yang telah disepakati sebelumnya. Pengetahuan “tingkat tinggi” ini disebut ontology, yaitu pengetahuan tentang esensi atau substansi sesuatu. Pengetahuan tingkat tinggi melihat wujud bukan pada bagian-bagian fakta kasat-mata suatu realitas tertentu, tetapi mencari dan merumuskan pengetahuan yang hakiki tentang seluruh wujud. Misalnya pertanyaan tentang tubuh. Yang ditanyakan bukan kaki atau tangan semata, tetapi –jika tubuh memiliki kepala, apakah kepala ini memiliki jiwa yang dapat berpikir dan merasa, ataukah ia lemah dan kosong ? Apakah keseluruhan tubuh merasakan kenikmatan kehidupan, atau apakah intelegensi dan persepsi tubuh ini dibatasi pada sejumlah ide yang muncul secara kebetulan? Apakah seluruh tubuh mengejar suatu tujuan, ataukah seluruh tubuh berjalan ke arah suatu kesempurnaan realitas?

Inilah pertanyaan-pertanyaan filosofis. Dan bentuk berpikir yang digunakan untuk mencari jawaban-jawabannya disebut filsafat. Dengan demikian filsafat dapat dimaknai sebagai bentuk pemikiran yang berusaha mencari pengetahuan hakiki tentang suatu wujud.



Bintan, Juli 2010.

Related

Diskursus 789568753619530634

Post a Comment

emo-but-icon

About Me

My photo
Father of 2 wonderful blessed kids. Teacher. Blogger. Guru Informatika SMPN 8 Bintan. Blogger yang percaya mengajar itu keren. Pendukung Timnas Indonesia, Arema Malang dan Real Madrid. Berharap Indonesia menjadi superpower dunia dan membuat jet tempur serta roket ruang angkasa sendiri. Pembaca buku yang suka ngopi serta puisi. Email: sutan.malaka1110@gmail.com

Arsip Semua Tulisan

item