Memajukan Sepakbola Indonesia, Bagaimana Caranya?
https://lenterarevolusi.blogspot.com/2022/02/memajukan-sepakbola-indonesia-bagaimana.html
Tulisan ini dibuat masih dalam nuansa kiprah Timnas Indonesia di AFF Cup Singapura 2021 lalu. Sepak terjang Garuda muda dalam kejuaraan itu pantas menjadi buah bibir, karena dari yang awalnya diremehkan banyak pihak, faktanya Timnas Garuda justru menjungkirbalikkan semua prediksi dengan melaju ke final AFF Cup. Bahkan dalam perjalanan menuju final, Garuda muda membuat juara bertahan Vietnam tidak berkutik dan sukses menghempaskan Malaysia serta Singapura. Meskipun akhirnya kalah di final melawan tim gajah perang Thailand.
Kekalahan melawan Thailand dalam final AFF kali ini, juga tidak terlalu membuat publik sedih. Ada dua alasan mendasar soal ini. Pertama, Timnas Indonesia berisi mayoritas pemain muda, antara 20 - 21 tahun seperti Egy Maulana Vikri, kapten tim Asnawi Mangkualam atau Witan Sulaeman.. Bahkan ada yang masih berusia 19 tahun, yaitu Elkan Baggot. Sedangkan Timnas Thailand menurunkan timnas senior mereka, termasuk bintang senior mereka seperti kapten tim Chanatip Songkrasin (28 tahun) dan Teraasil Dangda (33 tahun). Dari sini jelas dari sisi pengalaman dan kematangan Thailand lebih unggul.
Kedua, performa Garuda muda selama kejuaraan AFF ini sangat menjanjikan. Timnas Garuda muda menampilkan pola sepakbola modern, dengan direct football yang dikemas dalam passing-passing pendek dan permainan determinasi yang tinggi. Dengan usia rata-rata yang masih sangat muda, tentunya ke depan prospek Timnas Garuda muda ini sangat cerah. Dengan syarat mereka harus ditempa dalam sistem kompetisi yang benar serta sistematis.
Sepakbola Nasional Belum Menggembirakan
Terlepas dari prospek cerah Timnas Garuda muda, secara umum saat ini sepakbola Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah masalah. Di antaranya kualitas sepakbola Tanah Air yang kurang memuaskan dan Timnas Indonesia yang belum banyak berbicara di kejuaraaan internasional. Ranking kompetisi Liga 1 yang merupakan kompetisi sepakbola level tertinggi di Tanah Air, hanya menempati peringkat ke-26 di antara negara-negara Asia.
| Ranking kompetisi Liga 1 di Asia (sumber: footyrankings.com) |
Dari tabel data di atas terlihat bahwa ranking kompetisi Liga 1 berada di bawah kompetisi Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Singapura. Tentunya kita harus mengubah situasi yang tidak menguntungkan ini. Karena kualitas liga suatu negara sangat mempengaruhi kualitas sepakbola dan level timnas negara tersebut.
Sementara untuk ranking Timnas Indonesia dalam daftar peringkat Federasi Sepakbola Dunia FIFA berada di posisi 164 dunia.
| Timnas Indonesia berada di ranking 164 FIFA |
Ranking Indonesia di posisi 164 dunia/FIFA ini menempatkan Timnas kita di bawah Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Singapura.
Dari dua parameter ini, kita lihat level sepakbola nasional belum menggembirakan. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana caranya membenahi sepakbola kita agar memiliki kualitas yang tinggi dan Timnas Indonesia sanggup berbicara di level internasional?
Belajar dari Gebrakan Jepang
Sejak dari 1990 an hingga sekarang Jepang merupakan salah satu raksasa sepakbola Asia. Timnas Jepang langganan ikut Piala Dunia, mewakili Asia sejak Piala Dunia 1998 hingga 2018 (6 kali). Tidak sekedar ikut, Jepang sukses melaju ke babak 16 besar di Piala Dunia 2002, 2010 dan 2018. Di benua Asia sendiri, Jepang 4 kali menjadi juara Piala Asia. Terakhir Jepang menjadi juara Asia pada turnamen AFC Cup 2011 di Qatar dengan mengalahkan Australia 1-0 di final.
Sejak dari 1990 an hingga sekarang Jepang merupakan salah satu raksasa sepakbola Asia. Timnas Jepang langganan ikut Piala Dunia, mewakili Asia sejak Piala Dunia 1998 hingga 2018 (6 kali). Tidak sekedar ikut, Jepang sukses melaju ke babak 16 besar di Piala Dunia 2002, 2010 dan 2018. Di benua Asia sendiri, Jepang 4 kali menjadi juara Piala Asia. Terakhir Jepang menjadi juara Asia pada turnamen AFC Cup 2011 di Qatar dengan mengalahkan Australia 1-0 di final.
Sepakbola Jepang kuat karena berakar pada kompetisi yang berjenjang dan sistematis. Kompetisi sepakbola Jepang tidak hanya berupa kompetisi sepakbola profesional J-League (Liga Jepang), namun juga menyelenggarakan kompetisi sepakbola antar sekolah (SMA).
Kompetisi sepakbola antar SMA menjadi event bergengsi bagi sekolah-sekolah di Jepang. Bahkan kejuaraan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Jepang, karena dari kompetisi bergengsi itulah kerap lahir bibit-bibit pemain berbakat yang kemudian menjadi bintang timnas sepakbola Jepang. Di antara bintang Timnas Jepang yang lahir dari kompetisi antar SMA adalah Hidetoshi Nakata, Makoto Hasebe dan Keisuke Honda.
Klub-klub sepakbola sekolah di Jepang berkualitas bagus karena mendapat sentuhan tim pelatih klub-klub sepakbola profesional Liga Jepang (J-League). Hal ini tidak lepas dari kebijakan Persatuan Sepakbola Jepang (JFA), yang mewajibkan klub-klub J-League untuk lebih memasyarakat. Jadi klub-klub J-League memfasilitasi sekolah lokal di mana klub-klub itu berada. Bahkan JFA menawarkan para pemain usia muda untuk lebih mengembangkan bakat sepakbolanya sejak dini tanpa harus meninggalkan sekolah.
Sebagai contoh klub sepakbola SMA Kashima. SMA Kashima merupakan tim kuat dan selalu masuk kejuaraan nasional. Para pemain SMA Kashima sendiri adalah lulusan SMP Kashima. Seluruh murid di sekolah tersebut dilatih oleh staf pelatih pengembangan usia muda yang berasal dari klub profesional J-League, Kashima Antlers.
Dengan sistem seperti inilah sepakbola Jepang tidak pernah kehabisan talenta-talenta muda berkualitas. Pembinaan sepakbola usia muda yang dimulai dari sekolah-sekolah, lalu diselenggarakannya kompetisi antar SMA sebagai ajang meningkatkan teknik dan skill individu para pelajar berbakat tersebut, membuat Jepang terus melahirkan pemain-pemain berkualitas untuk kompetisi sepakbola profesional mereka (J-League). Dan pada akhirnya kompetisi sepakbola profesional ini akan menghasilkan bintang-bintang sepakbola yang mengharumkan nama Timnas Jepang.
Pembinaan Usia Muda dan Kompetisi yang Sistematis
Belajar dari pengalaman Jepang, Indonesia dapat membangun sepakbola melalui pembinaan usia muda dan kompetisi antar sekolah, lalu berlanjut ke kompetisi profesional. Dengan pola pembinaan sejak dini melalui klub-klub sekolah, akan bermunculan talenta-talenta muda, yang akan terasah skill dan potensinya dengan kompetisi antar sekolah.
Mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas, kompetisi antar sekolah dapat dibuat per wilayah atau dalam lingkup provinsi. Juara kompetisi wilayah atau provinsi lalu bertanding dalam kejuaraan nasional. Dengan kesamaan visi dan kerjasama berbagai stakeholder seperti Kemdikbudristek, PSSI dan klub-klub profesional liga Indonesia, proyek strategis pembinaan sepakbola nasional seperti ini akan berjalan baik.
Kompetisi sepakbola antar sekolah ini pastinya menghasilkan talenta-talenta muda, yang siap memasuki kompetisi sepakbola profesional di liga Indonesia. Seiring pembenahan terus-menerus liga Indonesia agar semakin modern dan profesional, pada akhirnya semua gebrakan ini akan menghasilkan Timnas Indonesia yang mampu berbicara di level Asia dan dunia.
